Webinar Homeschooling #1 (pengantar)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kamis kemarin, saya mengikuti webimagesinar (seminar via web) yang diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi mengenai homeschooling. Sebenarnya banyak bertebaran informasi mengenai homeschooling di internet, namun belum membahasnya secara mendalam dan komprehensi. Webinar  yang diselenggarakan oleh rumah inspirasi ini terdiri dari 8 sesi. Yang kemarin ini adalah sesi pertama yang intinya gambaran besar dari homeschooling itu sendiri.

Hal prisip yang paling mengena bagi saya adalah bahwa homeschooling bukanlah sebuah lembaga, melainkan hanya sebuah model pendidikan. Kalau disekolah, kepala sekolahnya yaaa pak/bu guru. Kalau homeschooling  ya kepala sekolahnya adalah orang tuanya. Disini orang tua sifatnya adalah fasilitator, bukan yang selalu mengajarkan ini-itu. Orang tua bertanggungjawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak. Mungkin dari sisi inilah yang cocok dengan pemikiran saya. Actually, saya kurang senang dengan model belajar saya jaman dulu yang harus bisa pelajaran A, B, C, D,…, Z  seolah olah jadi manusia yang serba bisa (eh malah curcol).

Di seminar ini, ada beberapa hal yang selama ini menjadi tanda tanya bagi saya, terjawab dengan cukup memuaskan disini :

Ijazah dan Legalitas

Soal ijazah ini, sebenarnya merupakan bentuk legalitas dari sebuah proses belajar (menurut saya sih). Namun, saat ini  dunia kerja dan perguruan tinggi mensyaratkan memiliki ijazah tertentu, maka ijazahpun cukup krusial untuk dimiliki. Meskipun banyak juga sih, pekerjaan yang berorientasi output, tidak pada ijazah yang dimiliki. Wong  punya ijazah aja kadang tidak selalu  mencerminkan skill yang dimiliki kok (misalnya saya hehehe ^^v)

Untuk anak homeschooling, pilihannnya ada pada ujian kesetaraan  (paket A, B dan C) ataupun ujian yang diselenggarakan oleh University of Cambridge  melalui CIE (University Cambridge International  Examination)

Kedua ijazah tersebut diakui secara international dan dapat digunakan oleh anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Sosialisasi

Sebenarnya sih, ini bukan problem yang saya pusingkan…. Saya sendiri sih percaya bahwa anak homeschooling itu tidak  berarti kurang sosialisasi, kuper dan terkurung didalam rumah. Justru malah saya mempertanyakan sosialisasi anak yang bersekolah biasa, dari jam 7 sampai jam 1, trus pulang, makan, les sampe sore, trus ngerjain PR, baru kemudian tidur. Kapan mainnya? Sosialisasinya dengan sebaya doang dong? Dengan homeschooling, justru lebih terbuka kesempatan untuk bergaul dengan masyarakat luas, beragam dari berbagai latar belakang sosial maupun usia. Tapi ini kembali pada orang tuanya, apakah mau mengenalkan lingkungan yang beragam itu pada anakanya atau tidak. Bisa lewat organisasi sosial, klub, ataupun magang. Malah lebih down to earth kayanya…

Masih ada sih pertanyaan-pertanyaan lainnya kaya, “entar gimana bikin kurikulumnya?” atau “metodenya ntr kaya apa?” atau “ketergatungan banget sama resource dari internet ya?” . Namun sepertinya hal tersebut bakal dijawab di 7 sesi yang masih tersisa. Yang baru saya ikutin kan cuman pengantar, belum secara mendalam.

Akhir cerita, saya kemarin dapet sebuah gambar dari teman saya yang cukup menarik untuk direnungkan…

Untitled

“Jika seorang guru tidak dapat mengajarkan semua pelajaran, maka bagaimana mungkin menharapkan seorang murid untuk mempelajari seluruh pelajaran?? “

_naya_

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *