Family Strategic Planning (Part 1)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Tulisan ini merupakan review dari pengalaman saya mengikuti kuliah ibu profesional yang topiknya sama kaya judul tulisan ini. Family Strategic Planning. Berat kan bahasannya kali ini??? Dari judulnya aja udah ruwet kayanya… Enggak kok.. enggakk… santai dulu, bikin teh anget sama sediain keripik kentang baru deh baca biar agak rileks…

 mmap family strategic plan

Bagaimana Hidup Kita?

Bagaimanakah kita mengelola kehidupan pribadi maupun keluarga kita? Apakah penganut mahzab yang mengalir begitu saja, atau mengatur semuanya dengan rencana?  Apakah rencana yang kita bangun sudah sistematis atau secara sporadis?? Misalnya ujug-ujug  “yukk kita piknik ke jawa. Nah kalau yang tipe ini termasuk yang rencana sporadis. Hahaha saya banget 😛

Kalau perusahaan saja mengelola projectnya dengan sebegitu serius dan telitinya… kalau karier kita saja (saya sudah tidak berkarier sih :P) dipikir secara detail rencananya, kenapa justru keluarga yang begitu dekat dengan kita dan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat justru tidak direncanakan dengan matang??

Dalam dunia manajemen, bila kita tidak punya perencanaan , maka kita tidak mungkin melakukan evaluasi. Yapp.. saya setuju banget. Meskipun pada akhir tahun (biasanya) kita kita ini sok bikin evaluasi, nah terus parameter komparasinya pake apa kalau nggak ada rencana sama sekali.

Kerumunan vs Team?

2

Gambar yang pertama adalah gambar kerumunan di pasar, sedangkan yang kedua adalah gambar sebuah team sepakbola. Apakah perbedaan yang mendasar dari kedua gambar tersebut? Tujuan. Di kerumunan, setiap orang memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Sedangkan pada team, setiap orang punya tujuan yang sama. Nah, berdasarkan deskripsi tersebut, keluarga kita ini lebih mirip yang mana? Kerumunan apa Team? Coba tanyakan ke pasangan dan ke anak, “tujuan keluarga kita ini apa?” Kalau semua jawabannya kompak dan sama, maka Alhamdulillah keluarga ini merupakan sebuah team. Akan tetapi, kalau jawabannya berbeda, maka jangan-jangan “keluarga kita ini team lho”, hanya sebuah semboyan belaka.

Sebuah team yang efektif, memiliki hal-hal berikut :

  1. Punya tujuan yang jelas
  2. Pemimpinnya unggul
  3. Ada nilai hidup yang jelas
  4. Saling memahami dan saling menghormati
  5. Ada pola gerak yang saling selaras

Bagaimana membentuk team yang efektif? Dimulai dari membuat Kontrak Sosial Sepasang Kekasih….

Cieee… kekasih booo’ bahasanyaa.. gapapa lah, biar merasa awet muda kaya abege 🙂 Kira-kira ya berisi “keluarga ini nantinya mau jadi kaya apa”. Gombalan-gombalan mimpi pas jaman mau menikah bisa juga direcord di kontrak sosial ini misalnya heheheee ^^v

Sebagai contoh, di keluarga pak dodik, mereka menuliskan “common enemy” dan “golden rules” untuk keluarga mereka.

Common Enemy

Common enemy ini sebenarnya adalah common interest, cuma dinamain kaya gitu biar lebih heboh dan eye catching katanya hhahahaha…  Common enemy mereka yang pertama adalah, mereka itu suka sekali mengobrol tentang anak dan bahagia ketika anak-anaknya sukses. Jadi anak adalah prioritas utama bagi mereka.

Yang kedua, mereka ingin punya rumah yang dikelilingi rumput, membelakangi gunung, dan didepannya ada sungai tapi gajinya dolar…. hahahhaa apik iki.

Golden Rules

Golden Rules ini merupakan aturan umum yang berlaku bagi keluarga mereka. Lagi lagi, saya tuliskan contohnya yaaa :

  • Mengkomunikasikan permasalah di keluarga, seberapapun marahnya
  • Kalau ada perbedaan pendapat, kembalikan pada al-quran dan hadist
  • Keputusan yang dibuat saat marah, dinyatakan batal demi hukum

Bagus juga, pengen dicontek #ora kreatif. Tapi mau dibicarakan dulu sama abu, kalo kalo ada penambahan isi konten.

Huffttt… Segini dulu ya tulisannya… Nanti dilanjut dibagian kedua, Insya Allah. Oia, kalau yang pingin liat mind map dari webinar tersebut, klik aja gambarnya. Insya Allah lebih besar dan jelas kok 🙂

_naya_

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.