Apakah anak homeschooling bisa kuliah?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Tulisan ini hanyalah copas dari sebuah facebook group yang saya ikut di dunia maya. Sekedar untuk menyimpan dan menjadikan pengingat untuk saya. Seandainya berguna bagi yang lain, ya Alhamdulillah 🙂 Sama seperti kebanyakan orang tua yang sedang mempertimbangan metode homeschool untuk anaknya, jenjang perguruan tinggi adalah salah satu kekhawatiran cukup membuat galau saya.

Jika pilihan anak adalah melanjutkan kuliah di Indonesia maka anak mesti mengikuti ujian paket A, B dan C yang pelaksanaan ujian dapat ditanyakan di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yg ada di kota masing-masing dengan melengkapi persyaratan, contoh raport dan persyaratan sdh sy kirim k thread di grup ini. Raport dibuat sendiri oleh ortu dan disinilah pentingnya kejujuran ortu dalam memberikan penilaian k anak. Adapun sumber bahan belajar dapat di googling d buku sekolah elektronik berisi lengkap materi dan contoh soal atau dapat mengikuti latihan di PKBM 6 bulan menjelang ujian, dengan membayar biaya sebesar 3 juta rupiah utk persiapan belajar hingga ujian (perkiraan harga 2 tahun lalu di kota Bandung). Belajar dari Senin sd Jumat dari pagi sampai Zuhur. Apabila tidak lulus, boleh mengulang setelah 6 bulan pengumuman hasil ujian. Adapun universitas yg menerima ijasah paket adalah UI, UGM, ITS, Unair (ini yg saya tahu dengan pasti) sedangkan utk Universitas negeri lainnya saya tidak ada infonya.

Adapun jika ingin melanjutkan ke luar negeri, maka yg mesti diperhatikan adalah :
Pertama cek persyaratan yg diminta melalui web universitas yg akan dipilih, jika :

  •  menerima ijazah Cambridge, persyaratan cukup sampai O level? IGCSX (ada 10 level) ataukah memerlukan A level. Ujian Cambridge dapat diikuti di sekolah2 yg ada di Indonesia yg tercantum tulisan Cambridge International Certificate, biasanya di sekolah internasional. Biaya per subjek 1,3 juta rupiah. Untuk ujian, anak dapat mengambil subjek tertentu saja tergantung permintaan kampus yg diterima tidak harus semua subjek yg ditawarkan Cambridge. Sedangkan untuk latihan soal2 dapat didownload silahkan googling extreme paper, kode S untuk Sylabus dan QP untuk Question paper (contoh soal). Kabarnya sekolah di Jepang sdh ada yg menerima sertifikat Cambridge. Persiapan cambridge dapat dilakukan sendiri secara gratis krn ada panduan dan cara mengerjakan soalnya. Jadi perlu diketahui secara pasti universitas yg dipilih itu hanya meminta O level saja atau sampai A level. A level ini lebih berat daripada GAC di poin C krn A level ini akademis bangettt…Tapi masih lebih mudah daripada soal di Paket A, B, C …hasil ngobrol dgn guru Cambridge…soal Cambridge itu simpel jika kita ngerti dan paham Englishnya daripada di Paket A, B, C yg lebih rumit.
  • masuk k foundation selama 1 tahun seperti Univ Monash dan univ lainnya di Australia. Saat ini Australia mempersyaratkan ijasah 12 tahun atau setara dengan paket A,B, C dan masih ada yg perlu masuk foundation dan masih ada lagi ujian saringan masuk universitas sehingga saat ini kabarnya Australia bukan lagi negara yg nyaman dipilih utk para HS-ers..(ini hasil perbincangan dg para ibu yg sdh search univ di Australia). Jika ada yg mengetahui info terbaru..mohon bisa berbagi di komen. Sistem ini biasanya digunakan oleh Jerman. Jika anak HS ingin sekolah di Jerman disiasati dengan S1 Indonesia baru S2 di Jerman atau S1 Singapura baru S2 Jerman.

kedua poin tersebut cocok utk anak yg minatnya besar terhadap akademis.

  • Anak lebih senang dg skill dan projek maka sebaiknya ketika umur 16 tahun ambil Global Assessment Certificate yg infonya dapat diakses di www.actinternationalservices.com. Anak selama 1 tahun belajar subjek yg dibutuhkan untuk dapat masuk ke universitas yg menjadi mitra GAC. Biaya di Indonesia selama 1 tahun 55 juta belum termasuk ujian 3 level selama 1 tahun. Ujian per level biaya 150US dolar dan ada remedial 2 x jika tidak lulus dan tdk mempengaruhi nilai projek, hanya mempengaruhi nilai akhir. Syarat mengikuti GAC ini adalah lulus tes masuk atau memiliki sertifikat O level. Sy sarankan untuk memiliki sertifikat English O level dari Cambridge daripada Toefl/Ielts /Toeic yg masa berlakunya hanya 2 tahun dan biayanya lebih mahal daripada O Level. English O Level 1,3 juta sedangkan Toefl/Ielts/Toeic Internasional sekitar 2-2,5 juta. Jika lulus dari GAC dengan skor bagus bisa langsung mendapatkan beasiswa dari kampus penerima. Jika memilih jalur ini, sebaiknya anak memiliki portofolio projek yg dilakukannya sejak kecil dan dinarasikan dalam bahasa Inggris. Jangan lupa ajari anak presentasi dengan bahasa Inggris jika milih poin ini.

Demikian info yg dapat saya berikan utk menjawab beberapa pertanyaan ibu2 di inbox mengenai bagaimana anak2 HS nantinya kuliah. Jawaban dari pertanyaan wah kalau kuliah di luar negeri gimana biayanya ? Ortu saving 1 tahun setelah itu minta anak utk menjadi entrepreneur dg usaha memenuhi kebutuhannya sendiri, bisa dilakukan dengan bisnis dengan modal life skill baik hard skill dan soft skill yg telah dimiliki sejak HS, kerja part time di toko atau perusahaan dengan magang, mengikuti projek dosen dan alternatif terakhir dgn mengejar nilai yg bagus (jika minatnya besar terhadap akademik).
Menurut sy pilihan anak nantinya mau kuliah atau tidak dan pilihannya mesti dipikirkan sejak anak-anak usia 10 tahun atau maksimal usia lulus SD (sekitar 12 tahun) dengan mengajak anak diskusi dan berkomunikasi tanpa memaksakan kehendak ortu k anak. Jangan sampai anak kita mengalami spt pada umumnya yg menimpa anak kelas 3 SMA, bingung mau kuliah dimana dan ambil jurusan apa sehingga pilihan kuliah tergantung teman, pacar, gengnya atau paksaan ortu daripada mengganggur tidak jelas. Berhubung, anak-anak sy milihnya poin c maka anak-anak sy, sampai usia 15tahun fokus dengan minatnya misal anak pertama k desain, anak kedua ke science sdgkan anak ketiga belum terlihat. Ini dalam rangka mengumpulkan portofolio sambil meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Kadangkala belajar Cambridge juga untuk melatih kemampuan bahasa Inggrisnya. Termasuk mempersiapkan dananya…ini yg paling penting dan utama, baik utk setahun kuliah di luar negeri, setahun ikut GAS…hehehe…(sudah jadi kewajiban ortu kan y?
Bukankah pilihan HS adalah agar anak punya life skill yg terdiri dari hard skill dan soft skill sehingga anak terlatih hidup mandiri dan bertahan hidup dg life skill yg dimilikinya ?

Salam pendidikan!
_naya_

4 Comments

  1. ricanovi

    Maaf bun sebelumnya, sedikit menambahi, konten di atas setau saya tulisan dari Ibu Ida Nuraini, founder HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara)… Terima kasih.

    • naya

      bisa jadi demikian mbak. Saya lupa persisnya, karena waktu itu lagi ada diskusi di grup fb indonesian homeschooler membahas ttg keberlanjutan kuliah utk anak HS dan ada yang comment dengan tulisan diatas (entah ibu ida nuraini atau bukan). Spt yang sdh saya tulis diatas, bahwa tulisan ini copas dr grup tsb. Apakah mbak tau ada link aslinya? akan lebih baik klo refers ke tulisan aslinya….

    • naya

      lebih besar atau lebih kecilnya itu relatif. tergantung model/ fasilitas yang disediakan dirumah. Kalau belajarnya menggunakan buku2 atau alat2 yang sudah ada di sekitar rumah, biayanya bisa ditekan. Sedangkan biaya bisa lebih tinggi jika menggunakan tutor / course yang memiliki harga mahal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *