Ngopi Cold Brew

Sahabat-sahabat dekat saya ketika jaman smp ataupun sma pada umumnya tahu kalau saya bukan penikmat kopi. Jangankan cold brew, kopi instan aja ngga. Itupun kalau boleh dibilang, perut saya tidak toleran terhadap kopi. Ada sedikit cerita tentag hal ini. Sahabat terdekat saya selalu membuatkan latte merk good*y setiap saya main ke rumahnya. Maksudnya sih baik, menjamu tamu dengan minuman favoritnya. Namun setiap pulang dari sana, saya mules mules di rumah. Hehe.. Akhirnya daripada mules, saya jujur mengatakan padanya kalau tidak bisa minum kopi. Padahal kopi sachet merk tersebut kan proporsi kopinya kecil, tapi dampaknya cukup signifikab buat saya.

Kemudian ketika kuliah di fakultas pertanian yang mana tugas laporannya sampai seratus lembar lebih, maka saya menjadi sering bergadang. Kopi menjadi salah satu andalan untuk menghilangkan rasa kantuk. Saya lupa bagaimana proses sampai akhirnya saya tidak mules mules lagi minum kopi. Waktu itu saya minum nescafe yang ada krimernya.

Lama tidak ngopi, saya akhirnya berkenalan dengan dunia perkopian dari abuhasan. Versi yang lebih serius tentunya, bukan versi sachet-sachetan.

Dari abu, saya mengenal teknik menyeduh ala V60, aeropress, dan yang paling terakhir adalah cold brew. Bukan saya yang menyeduhkan kopi untuk suami seperti di film ataupun sinetron. Tapi justru abuhasan yang menyeduhkan kopi untuk saya. Saya mah bagian icip icip saja. Cuman satu sruput trus udah, karena masih sulit menikmati kopi hitam tanpa tambahan krimer ataupun gula.

Diantara beberapa teknik menyeduh kopi yang saya sebutkan diatas, lidah saya paling cocok dengan cold brew. Rasanya bitterless dibandingkan dengan hasil seduhan menggunakan teknik lainnya. Selain itu, karena saya adalah tim minum air kulkas maka cold brew lebih menyenangkan untuk dibandingkan dengan secangkir kopi hangat. Apalagi kalau ditambahi krimer dan gula atau susu kental manis. Ahahaii… Saya masih sering ditertawakan abuhasan terkait pemberian susu kental manis di kopi. Gak papa lah ya, ngopi itu kan soal selera toh?!

Balik lagi ke cold brew. Saya menggunakan Hario Filter Coffe Bottle kapasitas 650ml. Sizenya cukupan buat serumah. Btw, duo soleh memang kadang ikutan nyicip nyicip kopi buatan kami (baca: abuhasan). Materialnya terbuat dari kaca dan leher serta tutupnya terbuat dari karet silikon. Filternya sendiri terbuat dari bahan polyester yang menurutku mirip mirip sama kain parasit. Itu polyester juga kan. Tp lebih halus sih…

Hario Filter Bottle

Hario Filter Bottle

Untuk biji kopinya, saya pakai yang notesmya fruity. Ahaiii saya jujur belum paham betul jenis jenis rasa pada kopi. Harap dimaklumi. Saya manut abuhasan saja. Terakhir kemarin saya coba seduh dengan biji kopi hallu pink banana. Kopi dari gunung halu, jawa timur dengan notes pisang

Hallu pink banana

Hallu pink banana. Gambar dapat dari sini

Hayuklah, mari mampir angkasapura, kita ngopi sambil cemal cemil. Diet masih bisa ditunda besok, insya Allah. Kalau mau kasih tambahan SKm juga boleh, insya Allah tersedia… Muueehehe

Mari ngopi

_naya_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.