Review Buku : Unschooling Rules

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

unschooling rulesJudul Buku : Unschooling Rules
Penulis: Clark Aldrich
ISBN: 978-1608321162
Penerbit: Greenleaf Book Group
Ketebalan: 168 halaman
Dimensi: 1.5 x 13 x 20 cm
Harga: $8.9

My Wife and I suspected it might be time to move our six and seven year old boys from a Montessori preschool to a more traditional educational environment. So I asked for a meeting with one of the best teachers at on of the best private elementary school in Austin, Texas and aksed “When should we transition our sons to a more traditional system?”

“As soon as posible” he replied. Somewhat taken aback, I asked why.

“Because the longer the are in non traditional school, the harder it will be for them to sit still and be lectured all day”

I pictured our two sons curious, happy boys chained to a desk for hours on end, and before I cloud stop my self said “I dont blame them”

The teacher looked at the floor for the longest time. So long that I thought something was srong. Then he looked up, with tears in his eyes, and softly said, “I dont either”

Buku ini dibuka dengan pengantar dari Jeff Sandefer, seorang enterpreuner sekaligus pengajar di University of Texas. Beliau merasakan ada yang salah dengan sistem pendidikan saat ini. Menurutnya, sistem pendidikan dibuat seperti produk pabrikan, dimana guru sibuk mengajarkan hal-hal yang seragam kepada murid untuk membentuk generasi yang produktif. Murid akan menjadi pendengar dan duduk selama berjam-jam untuk mendapatkan pelajaran yang sama. Padahal, setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing. Kecerdasan setiap anak inilah yang harus ditemukan dan dikembangkan secara individual.

Clark Aldrich menformulasikan Unschooling Rules menjadi 7-C :

  • Curricula
  • Content
  • Coaching
  • Customization
  • Community
  • Credit
  • Care

Ke 7-C tersebut dibuat menjadi bab-bab dalam buku ini. Setiap bab dipecah lagi menjadi rules/ aturan-aturan yang menjadi dasar dari proses pembelajaran yang keseluruhannya ada 55 aturan.

Menurut penulis buku ini, kurikulum harus disusun untuk membantu anak mengenali siapa dirinya dan apa yang mereka inginkan. Dengan mengetahui hal tersebut, anak dapat mengembangkan hal-hal yang menarik minat dan bakatnya, dan dapat diaplikasikan langsung secara produktif. Sebagai tahap awal, anak dapat diasah untuk berlatih membaca, menulis dan menghitung. Ketiga skill ini merupakan skill utama yang digunakan dalam kehidupan sehari hari dan digunakan untuk mengembangkan keahlian lainnya. Kemampuan penting lain yang perlu dikembangkan diantaranya kemampuan beradaptasi, manajemen resiko, manajemen proyek, kepemimpinan, manajemen konflik, negosisasi, perencanaan jangka panjang dan lain-lain. Skill-skill inilah yang jarang diajarkan dan dikembangkan di sekolah tradisional.

What a person learns in a classroom in how to be a person in a classroom. They are learning how to take notes, they are learning how to surreptitiously communicate with peers, they are learning to ask question to endear themselves to authority figures. And they are learning it very well.

Sitting through a classroom lecture is not just unnatural for most people, it is painful. We all know this, yet so many deny it or view it as a personal failing.

Animals are better than books about animals.

Clark menganggap bahwa duduk diam bukanlah proses belajar yang alami. Belajar akan lebih efektif dengan praktek langsung di lapangan. Sebagai contoh anak anak harus dikenalkan dengan binatang mulai dari binatang yang ada disekeliling kita, binatang ternak, binatang liar. Dari binatang secara langsung ini, anak-anak dapat mempelajari biologi, sosiologi, genetika, ekonomi, sejarah, budaya, komunikasi dan gizi. Pada sapi misalnya, bisa dipelajari mengenai bagaimana anatomi sapi, makanan sapi, gizi yang dihasilkan dari daging sapi, ataupun belajar berwirausaha secara langsung ketika beternak sapi. Dalam proses pembelajaran ini, yang harus dibangun adalah rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar mengenai seluk beluk binatang. Bukan sekedar melihat dan mengamati saja.

Selanjutnya hal lain yang perlu ditekankan dalam proses pembelajaran adalah bahwa Orang dewasa merupakan role model. Jika orang dewasa ingin anaknya membaca buku, maka meraka juga harus mencontohkannya dengan membaca buku. Jika orang dewasa ingin anaknya melakukan percobaan sains, maka meraka juga harus melakukannya. Dengan menjadi role model, ada dua nilai yang dikembangkan oleh keluarga. Yang pertama, anak akan belajar dengan melihat perilaku orang tuanya. Kedua, orang tua akan lebih bijaksana dalam memberi tugas kepada anak.

Hal-hal yang disampaikan penulis tersebut menyentil perasaan saya. Betapa saya bosan menghafalkan sesuatu yang dapat mudah ditemukan dibuku-buku, dan kemudian dilupakan setelah ujian. Betapa saya merasa jenuh duduk berjam-jam untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru, bertanya pada guru dengan iming-iming mendapatkan nilai. Menyimak penjelasan guru sangat menyiksa saya, mengingat saya adalah pembelajar yang sangat visual. Akhirnya saya hanya datang ke sekolah karena kewajiban, dan lebih memilih membaca buku sendiri dirumah untuk mempelajari materi pelajaran.

Di bab Credit, penulis menyampaikan bahwa yang sangat diperlukan di masa depan adalah portofolio, bukan transkrip nilai. Contoh nyata saat ini adalah banyaknya lulusan universitas yang memiliki nilai tinggi, namun kurang pengalaman dalam bekerja. Akibatnya, perusahaan harus menyelenggarakan training terlebih dahulu agar lulusan ini dapat menyesuaikan diri dengan irama di tempat kerja. Salah satu cara agar portofolio dapat dihargai secara profesional adalah dengan mendokumentasikan hasil karya secara rutin dan terorganisir.

Dibagian paling akhir dari bab Care, penulis menyampaikan kalimat yang sangat menyetuh saya.

Parents care more than any institution about their children.

Children should be raised by people who love them

Orang tua merupakan pihak yang selalu peduli terhadap anaknya. Dengan demikian, tentunya orang tualah yang paling cocok untuk membesarkan anak-anaknya sendiri.

Penyampaian rule sederhana, namun mengena membuat pembaca akan mudah menyerap maksud yang disampaikan penulis. Setiap rule yang disampaikan dibuat secara khas dan unik. Kalimat terakhir dari pembahasan rule dibuat bersambung dengan judul rule selanjutnya. Contohnya pada rule nomor 38, kalimat akhir dari pembahasan rule tersebut dilanjutkan dengan rule nomor 39.

#38. Childen learn unevenly , even backwards
The industrial school model is that of even progress……………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………. As you acknowledge of this, you will be asking yourself ……..
#39 Five Subject a day? Really?

Kekurangan yang saya tangkap dari buku ini adalah informasi yang tidak teknis. Misalnya bagaimana orang tua memulai homeschooling, dimana resource homeschooling dapat diperoleh, bagaimana memdapatkan sertifikasi profesional tidak disampaikan di buku ini. Hal lain yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah adanya sentimen negatif terhadap sistem pendidikan yang dijalankan disekolah. Menurut saya, kedua sistem ini memiliki kelebihkan dan kekurangannya masing-masing. Yang satu tidak lebih baik daripada yang lain.

Secara keseluruhan buku ini memberikan banyak paradigma baru mengenai bagaimana anak-anak dibesarkan dan dididik terutama di Indonesia dimana homeschooling masih belum banyak dijalankan oleh orang tua. Hal lain yang saya anggap positif dari buku ini adalah adanya solusi yang ditawarkan bagi sistem yang ada saat ini, baik dari sudut pandang seorang guru, orang tua maupun penentu kebijakan pendidikan.

Happy reading!

_naya_

2 Comments

    • naya

      mampir makassar mak, ntar tak pinjemi :) tapi mahal di transport pesawat hehehee. klo pengen beli aja di bookdepository.com (malah ngiklan). Free ongkir dr UK mak hehehee…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *