Buku “Apa itu Homeschooling?”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Apa-itu-homeschoolingPenerbit : Panda Media Edisi : Soft Cover ISBN : 9797807096 ISBN-13 : 9789797807092 Tanggal Penerbitan : April 2014 Bahasa :Indonesia Ukuran : 200x140x0 mm Berat : 170 gram

Alasan utama saya membeli buku ini adalah agar saya memiliki literatur berbahasa indonesia untuk dikomunikasikan dengan orang lain. Kalau ada yang bertanya “kok pengen anaknya homeschooling aja?” daripada saya bingung, mendingan saya sodorkan buku atau contek kalimatnya mas Aar (penulis red.) yang ada disini. Kebanyakan literatur saya mengenai homeschooling menggunakan bahasa inggris, sehingga saya kurang memiliki susunan kalimat yang indah untuk menjawab dan menjelaskan keinginan saya atas pendidikan anak tersebut dari orang-orang disekeliling. Yah, saya memang nggak pinter ngomong sih 😀

“Apa itu homeschooling?” VS “Unschooling Rules”

Ketika buku ini akhirnya sampai ketangan saya, kesan pertama yang saya tangkap adalah format penulisannya yang mirip sekali dengan buku unschooling rules karangan Clark Aldrich. Hanya formatnya penulisannya saja yang mirip, kontennya jauh berbeda. Pada kedua buku tersebut, bagian akhir dari sebuah bab akan dilanjutkan menjadi judul di bab selanjutnya.

Misalnya pada buku unschooling rules :

#38. Childen learn unevenly , even backwards The industrial school model is that of even progress…………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………. As you acknowledge of this, you will be asking yourself …….. #39 Five Subject a day? Really?

dan sebagai perbandingan, format yang sama juga digunakan di buku “Apa itu homeschooling?”

Bab 10. Menjadi Perintis Itu Tak Mudah

Mendidik anak sendiri di rumah bukan lah sebuah hal yang populer. Sebagian besar masyarakat menyerahkan proses pendidikan ini ke sekolah dan semuanya diatur oleh negara…………………………………………………………………………………..

………………………………………….. Tak luput, tantangan yang harus dihadapi praktisi homeschooling adalah pandangan negatid dan prasangka tentang homeschooling dari keluarga dan lingkungan. Biasanya, tantangan dan prasangka yang paling sering muncul terhadap homeschooling adalah mengenai…

Bab 11. Sosialisasi Anak Homeschooling

Tak bersekolah bukan berarti tidak belajar

Sekolah merupakan sebuah model pendidikan yang paling umum dijalani didalam masyarakat, meskipun bukan satu-satunya. Banyak sekali persepsi yang salah didalam masyarakat mengenai homeschooling karene memang model pendidikan ini kurang umum dilakukan oleh sebuah keluarga. Alih-alih mempercayakan pendidikan anak ke lembaga pendidikan seperti sekolah, justru orang tua yang mengambil alih tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Bagaimana mungkin rumah yang minim fasilitas bisa menggantikan sekolah yang memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap? Bagaimana cara mengajarkan anak materi yang relatif sulit seperti matematika, kimia dan fisika jika dibandingkan guru yang telah menjalani pelatihan secara khusus? Bagaimana sosialisasi anak nantinya? Itulah pertanyaan yang biasa terlontar mengenai homeschooling. Melalui buku ini, mas Aar menjelaskan jawaban atas  pertanyaan-pertanyaan yang umum diajukan dari model pendidikan homeschooling. Mulai dari sosialisasi, biaya homeschooling, aspek legalisasi homeschooling, hingga pendidikan tinggi bagi anak homeschooling.

Buku tulisan mas Aar ini memberikan gambaran besar mengenai cara homeschooling bekerja. Mulai dari bagaimana memulai homeschooling, menentukan fondasi dan arah keluarga dalam bidang pendidikan, metode sekaligus materi yang diberikan kepada anak-anak, dan yang paling terakhir adalah proses evaluasi pendidikan anak. Sangat pas bagi keluarga yang masih minim literatur dan meraba-raba mengenai model pendidikan ini.

Setiap anak adalah bintang

Hal yang sangat berkesan dari buku ini (bagi saya secara khusus) adalah poin yang dipaparkan oleh penulis mengenai penghargaan atas keberagaman kemampuan anak.

Pendidikan bukanlah sebuah pabrik yang menghasilkan produk massal, tetapi sebuah butik yang menhasilkan adibusana yang unik pada setiap produknya. Pendidikan bukanlah proses untuk mendidik anak mengejar rangking pertama, sebuah tempat yang hanya diisi oleh satu orang.

………

setiap anak dan keluarga berhak dan layak menjadi bintang di area yang menjadi kekuatannya masing masing

albert_einstein_everybody_geniusMasih ingatkah quote yang disampaikan oleh albert einsten (bener gak sih einstein yang ngomong?!!) seperti pada gambar disamping? “Setiap orang itu jenius. Tapi jika anda menilai ikan atas kemampuannya memanjat pohon, maka ia akan seumur hidupnya percaya bahwa dirinya bodoh”

Harus diakui, pendidikan disekolah saat ini sangat menghargai kemampuan logic anak, mengutamakan hafalan dan membunuh kreatifitas anak. Juga lantas bagaimana anak yang memiliki kemampuan lain seperti kemampuan linguistik, kemampuan seni ataupun kemampuan interpesonal? Apakah lantas kemampuan mereka tidak bisa dihargai disekolah?
Ya! Homeschooling merupakan salah satu jawaban dari permasalahan tersebut. Keberagaman atas kemampuan anak akan sangat dihargai karena keluarga bebas mengkustomisasi pendidikan yang akan diberikan kepada keluarganya.

Meskipun cukup lengkap, buku ini bukannya tanpa kekurangan. Ada satu hal yang masih terasa mengganjal dan belum memuaskan rasa ingin tahu saya yakni masih umum dan globalnya pembahasan mengenai jenjang pendidikan tinggi bagi anak homeschooling yang justru menjadi salah satu tujuan pendidikan yang ingin diraih di keluarga kami. Hal ini sebenarnya sangat bisa dimaklumi karena penulis sendiri “baru” menjalani homeschooling selama tiga belas tahun, sehingga anak-anaknya belum mencapai taraf pendidikan tinggi tersebut. Terlepas dari kekurangan yang sangat subjektif tersebut, saya merekomendasikan buku ini sebagai salah satu bacaan bagi keluarga yang ini mengenal dan memulai homeschooling.

Happy Learning!
_naya_

2 Comments

  1. *jempol

    Mau tanya yang agak menyimpang. Mengapa susah sekali membuat orang paham kalau homeschooling lebih baik daripada sistem pendidikan yang sudah ada? Maksudnya, kan sudah terbukti kalau sistem yang ada sekarang nggak oke-oke amat untuk masa depan buah hati.

    • naya

      nggak mesti lebih baik juga ah Mas… HS maupun sekolah biasa (formal) ada kekurangan dan kelebihannya :) Mungkin karena sudah mendarah daging untuk kita bahwa “anak harus sekolah formal” agar tidak hidup menggembel. Biasalah, hidup mainstream aja lebih aman dan enak ^^v Orang menjadi susah paham karena model HS memang kurang dikenal Mas, misal dianggepnya anak bakal belajar dan terkurung dirumah. Terus ibunya akan berperan sebagai wonder woman yang bs mengajarkan semua pelajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *