Mitos Mengenai Homeschooling

 Anak homeschooling tidak bisa bersosialisasi?

Sosialisasi dalam homeschooling adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Hal  ini disebabkan ketidaktahuan tentang kegiatan homeschooling sebenarnya. Banyak orang berasumsi bahwa dalam homeschooling anak tidak keluar dari rumah dan hanya belajar dirumah mulai dari pagi sampai sore.  Jelas saja kalau seperti itu anak homeschooling dianggap kurang pergaulan. Pada kenyataannya, anak homeschooling lebih sering belajar langsung di lapangan kapan pun mereka mau. Saat waktunya belajar sains, mereka pergi ke perpustakaan, melakukan percobaan sederhana dirumah, ataupun terjun langsung ke alam. Ingin belajar bisnis? Cari kenalan pengusaha di sekitar lingkungan dan mencoba magang. Bandingkan dengan siswa sekolah formal yang berinteraksi hanya dengan teman-teman yang seusia dan dikumpulkan dalam satu kelas seharian. Kalau siswa homeschooling? Dengan banyak orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan.

Anak homeschooling tidak punya teman?

Mirip dengan pertanyaan pertama, pertanyaan ini beranggapan bahwa siswa homeschooling yang bersekolah formal memiliki banyak teman sedangkan mereka tidak. Kalau dinilai secara fair, tidak semua pertemanan disekolah bernilai positif. Sering kita dengar kasus bullying, peer pressure ataupun pelecehan seksual.  Anak homeschooling dapat berteman dengan anak-anak lain yang memiliki minat yang sama seperti di klub olahraga, di klub membaca, di remaja masjid ataupun interaksi teman di dunia maya.

Anak homeschooling tidak bisa kuliah?

Bukan hanya masuk perguruan tinggi, siswa homeschooling bahkan bisa masuk ke sekolah dasar maupun sekolah menengah formal di tingkat mana pun mereka mau. Model ini dinamakan multiple entry and multiple exit. Tentu ada prosedur-prosedur yang harus dilewati.
Homeschooling juga dijamin melalui UU No. 20/2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional. Meskipun sudah dijamin undang undang, karena kurangnya dukungan pemerintah dari sisi peraturan, maka banyak kendala administratif yang dilalui keluarga homeschooling ketika mendaftar pada ujian kesetaraan. Untuk lengkapnya, bisa dibaca disini. Salah satu alternatif lain selain mengikuti ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan mengikuti ujian Cambridge yang prosesnya lebih jelas dan transparan. Hanya saja perlu disiapkan kemampuan anak dan biaya yang lebih tinggi

Homeschooling itu mahal?

Homeshcooling adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga. Homeschooling bukanlah sebuah lembaga, jadi tidak perlu mendaftar kemanapun untuk menyelenggarakan homeschooling. Karena keluarga sendiri yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya, maka biaya pendidikan tersebut fleksibel sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Kalau anak menggunakan materi yang diunduh gratis dari internet, maka biayanya ya gratis (hanya biaya koneksi internet saja). Kalau mengikuti kursus atau memanggil tutor ya biayanya adalah biaya kursus dan tutor tersebut.  Jadi homeschooling bisa mahal atau murah, tergantung bagaimana keluarga memilih materi yang diberikan kepada anak-anak.

Orang tua homeschooler harus pandai mengajar?

Orang tua sama seperti manusia lainnya, memiliki keterbatasan untuk menguasai seluruh bidang. Ketika menyelenggarakan homeschooling, orang tua tidak berperan sebagai pengajar, namun sebagai pihak yang memfasilitasi proses pendidikan anaknya. Orang tua lebih berperan sebagai “kepala sekolah” yang mengorganisir kegiatan anak dan menentukan arah pendidikan. Orang tua boleh juga menjadi guru bagi anak-anaknya, meski guru tidak harus selalu orang tua. Guru bisa berasal dari tutor, saudara, tempat les, buku, internet atau siapapun yang bisa menjadi sumber ilmu.

Bagaimana kurikulum homeschooling?

Beberapa keluarga homeschooling memilih untuk menggunakan kurikulum terstruktur, sedangkan beberapa yang lain memilih menggunakan buku teks seperti yang digunakan disekolah pada umumnya. Beberapa keluarga juga menggunakan internet dan perpustakaan untuk menemukan resource yang sesuai, beberapa mengikuti minat dan bakat anak-anak dengan hanya sedikit ataupun tanpa pengajaran  sama sekali. Dengan kata lain, tidak ada aturan tentang bagaimana keluarga menjalankan pendidikan rumah. Semuanya kembali pada cara dan metode homeschooling yang ditempuh masing-masing keluarga.

Jadi, belajar merupakan sebuah kewajiban  tetapi sekolah tidak. Anak-anak tidak diwajibkan untuk bersekolah. Mereka bisa dididik di rumah. *senyum*

Happy Learning

_naya_

Klo yang dibawah ini cuman buat lucu-lucuan aja 🙂

homeschool_reason

5 Comments

    • naya

      Ayah edi? hahahhaa role model saya bukan beliau mas 😀
      lagi belajar2 kro mencoba menjalankan mas. gak pro tenan juga mas, masih melihat opsi sekolah formal juga. cuman karena tugas dinas suami terlempar jauh dari jawa, ada rasa kurang puas dengan pilihan sekolah formal yang ada disini. jadi sementara ini masih menganggap HS sebagai salah satu opsi yang cukup menarik untuk dijalankan.

  1. Ellyana

    Aku pernah diminta menerjemahkan web tentang homeschooling. Dan menurut ku menarik juga ternyata. Kekhawatiran tentang kurangnya kemampuan bersosialisasi juga sempat hinggap pada ku. Ternyata ada kok solusinya dari homeschooling.

    Menurut ku orang tua yang homeschooling pasti jadi lebih pintar seiring dengan perkembangan anaknya, karena mau ga mau musti tahu juga materi-materi homechooling. Jadi ga terus mandeg belajar karena sudah berkeluarga.

    Jadi, Neng sekarang home schooling kah?

    • naya

      belajar sambil jalan El…
      awalnya aku juga salah paham soal sosialisasi homeschooling ini. kemudian setelah tanya langsung sama beberapa keluarga yang memang menjalani, ternyata pemahaman saya dan masyarakat pada umumnya kui salah…. soal sosialisasi ternyata lebih ke habit keluarga. kalo keluarganya aktif membangun network, anaknya ternyata niru orang tuanya. demikian juga sebaliknya..
      konon kabarnya mbak Tit juga mengHSkan anake

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *